Tidak semua perjalanan besar dimulai dari tempat yang besar. Bagi Lia Dwiyanti, atau yang akrab disapa Yaya, langkah itu bermula dari Nanga Ketungau, Kalimantan Barat. Lahir pada 1 Juni 2004, Lia tumbuh dalam keluarga yang menanamkan kejujuran, kerendahan hati, rasa syukur, dan keyakinan untuk selalu mengingat Allah SWT. Nilai-nilai sederhana itulah yang kemudian menjadi fondasi bagi dirinya untuk terus bertumbuh dan berani mengejar mimpi.

Sosok ayah yang merupakan seorang perawat di Puskesmas Nanga Ketungau menjadi salah satu sumber keteladanan terbesar dalam hidupnya. Dari sang ayah, Lia belajar tentang pengabdian, kepedulian, dan kerja keras. Sementara dari sang ibu, ia belajar arti kesederhanaan dan rasa syukur. Ketika kehilangan sang ayah, nilai-nilai yang telah ditanamkan justru menjadi kekuatan yang mendorong Lia untuk melanjutkan perjalanan dengan tekad memberikan manfaat bagi orang lain.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, dunia seni, khususnya seni tari, telah menjadi bagian dari perjalanan Lia. Ia aktif mengikuti berbagai perlombaan tari hingga tingkat daerah. Bukan sekadar mengejar kemenangan, setiap panggung menjadi ruang baginya untuk belajar mengatasi rasa takut, membangun kepercayaan diri, dan menemukan keberanian untuk menunjukkan potensi yang dimiliki.

Memasuki SMP Negeri 1 Ketungau Hilir hingga MAN 1 Sintang, langkah Lia semakin berkembang. Ia tidak hanya aktif dalam kegiatan seni dan ekstrakurikuler, tetapi juga dipercaya memegang tanggung jawab dalam organisasi. Pernah menjadi Sekretaris OSIS dan Ketua Mudhararah Organisasi Keputrian Islam, Lia belajar bahwa kepemimpinan bukan tentang seberapa tinggi seseorang berdiri, melainkan seberapa besar ia mampu membawa orang lain tumbuh bersama.

Kini, Lia menempuh pendidikan D-IV Teknologi Laboratorium Medis di Poltekkes Kemenkes Pontianak. Di tengah kesibukan akademik, ia tetap aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan, termasuk paduan suara dan IMATELKI Divisi Human Capital Jilid V. Dedikasinya di bidang seni juga membuahkan prestasi sebagai Juara 1 Lomba Tari Dies Natalis Tahun 2023. Bagi Lia, akademik, organisasi, dan seni bukanlah jalan yang saling bertentangan, melainkan bagian-bagian yang membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih utuh.

Perjalanannya kemudian membawanya ke panggung Putri Hijabfluencer. Meraih posisi Runner Up 2 Putri Hijabfluencer Kalimantan Barat dan menjadi Perwakilan 3 Putri Hijabfluencer Indonesia bukan sekadar pencapaian, tetapi juga sebuah amanah. Di balik gelar tersebut terdapat perjalanan panjang seorang perempuan muda yang berani keluar dari zona nyaman dan memilih untuk terus belajar.

Bagi Lia, ambisi memang penting untuk membawa seseorang mendekati impian. Namun, ia percaya bahwa konsistensi, ketekunan, dan keberanian untuk mencoba kembali setelah mengalami kegagalan jauh lebih menentukan. Baginya, tidak ada proses yang benar-benar sia-sia. Setiap kegagalan meninggalkan pelajaran, setiap pengalaman membentuk kedewasaan, dan setiap langkah kecil memiliki arti dalam perjalanan menuju masa depan.

Sebagai perempuan muda dan muslimah, Lia ingin menggunakan ruang yang dimilikinya untuk menyebarkan nilai-nilai positif, memperkenalkan kekayaan budaya daerah, serta mengajak generasi muda untuk berani berkarya tanpa kehilangan identitas, akhlak, dan nilai-nilai keislaman. Ia ingin membuktikan bahwa perempuan berhijab dapat hadir di berbagai ruang, berprestasi, berkarya, dan tetap membawa nilai yang diyakininya.

Perjalanan Lia belum selesai. Dari Nanga Ketungau menuju panggung Kalimantan Barat hingga mewakili Indonesia, ia membawa satu keyakinan: mimpi tidak selalu membutuhkan langkah yang sempurna, tetapi membutuhkan keberanian untuk terus melangkah. Dengan semangat untuk terus bertumbuh dan tetap rendah hati, Lia Dwiyanti bukan hanya sedang mengejar prestasi, tetapi sedang membangun jejak—agar kelak perjalanan yang ia tempuh dapat menjadi alasan bagi perempuan lain untuk percaya bahwa mereka juga mampu bermimpi, berkarya, dan menjadi inspirasi.