Nur Annisa Vian Husaine membuktikan bahwa perempuan dapat tumbuh dengan banyak peran tanpa kehilangan arah. Berasal dari Sangatta, Kalimantan Timur, Annisa dikenal sebagai sosok yang aktif di bidang akademik, teknologi, kepenulisan, organisasi, serta pemberdayaan perempuan. Pada ajang Putri Hijabfluencer Kalimantan Timur 2026, ia berhasil meraih posisi Runner Up 1, sekaligus menjadi Finalis Putri Hijabfluencer Indonesia 2026 perwakilan Kalimantan Timur 2.
Perjalanan Annisa dibangun dari kecintaannya terhadap pendidikan. Ia menjalani pendidikan di beberapa bidang, di antaranya Sistem Informasi Kelautan di Universitas Pendidikan Indonesia, Sastra Inggris di Universitas Terbuka, serta Manajemen Bisnis Syariah di Institut Nida El Adabi. Baginya, pendidikan bukan sekadar tentang gelar, tetapi tentang bagaimana ilmu dapat membentuk cara berpikir dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
Ketertarikannya pada teknologi membawanya terlibat dalam berbagai proyek dan pengalaman profesional. Annisa pernah menjadi pengajar tahfidz dan tajwid, instruktur robotika, hingga terlibat dalam pengembangan platform digital untuk riset dan pengelolaan data kelautan. Saat ini, ia juga menjalani peran sebagai Software Developer, mengembangkan sistem berbasis teknologi yang mendukung kebutuhan industri. Perjalanan tersebut memperlihatkan kemampuannya untuk bergerak dari ruang pendidikan menuju dunia teknologi secara nyata.
Tidak hanya berkutat pada dunia teknologi, Annisa juga memiliki rekam jejak dalam kepenulisan. Ia menjadi penulis buku The Simulacrum of Power yang diterbitkan pada 2025. Selain itu, sejumlah tulisannya tercatat dalam publikasi ilmiah yang mengangkat isu lingkungan, kelautan, dan teknologi. Perpaduan antara kemampuan teknis dan literasi menjadi salah satu karakter kuat yang membedakannya.
Prestasinya pun datang dari berbagai bidang. Ia pernah meraih Juara 1 Kompetisi Mahasiswa Sistem Informasi Kelautan, Juara 2 dalam ajang teknologi berbasis AI, serta Juara 3 Pekan Olahraga Mahasiswa. Ia juga memiliki berbagai sertifikasi di bidang teknologi, kepenulisan, lingkungan, dan pengembangan diri. Deretan pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa Annisa tidak membatasi dirinya hanya pada satu bidang.
Di luar akademik dan profesional, Annisa aktif mengambil peran dalam organisasi. Ia pernah terlibat dalam BEM UPI Kampus Serang, Himpunan Mahasiswa Islam, Korp Pers Mahasiswa, hingga berbagai kegiatan pemberdayaan perempuan dan kepemudaan. Pengalaman tersebut membentuk kemampuan kepemimpinan sekaligus memperluas kepeduliannya terhadap isu pendidikan, perempuan, dan masyarakat.
Babak baru perjalanan Annisa hadir melalui Putri Hijabfluencer Kalimantan Timur 2026. Ia berhasil melewati berbagai tahapan hingga masuk Top 20, Top 10, dan Top 6, serta meraih penghargaan Best 1 Talent Show. Perjalanan tersebut kemudian mengantarkannya sebagai Runner Up 1 Putri Hijabfluencer Kalimantan Timur 2026 dan membawa namanya melaju sebagai Finalis Putri Hijabfluencer Indonesia perwakilan Kalimantan Timur 2.
Di balik berbagai pencapaiannya, Annisa menyimpan sebuah visi besar: “Menciptakan Beasiswa 1 Juta Tahfidz Dunia.” Ia membayangkan hadirnya platform berbasis teknologi yang dapat menghubungkan para penghafal Al-Qur’an, menghadirkan pembelajaran berbantuan AI, serta menjadi ruang belajar yang lebih interaktif. Sebuah gagasan yang mempertemukan kecintaannya pada teknologi dengan nilai-nilai keislaman.
Bagi Annisa, teknologi bukan sekadar alat untuk menghasilkan karya, melainkan jembatan untuk menghadirkan kebermanfaatan yang lebih luas. Kini, sebagai Runner Up 1 Putri Hijabfluencer Kalimantan Timur dan Finalis Putri Hijabfluencer Indonesia perwakilan Kalimantan Timur 2, ia membawa cerita tentang seorang perempuan yang berani belajar lintas bidang, berkarya dengan ilmu, dan menjadikan setiap panggung sebagai kesempatan untuk menginspirasi. Dari Kalimantan Timur, langkahnya mungkin dimulai—tetapi visi dan manfaat yang ingin ia hadirkan jauh melampaui batas daerah.




